Maksulami ( memaksa menyulam mimpi )

Terbangun akan sebuah mimpi,
Melangkah akan gerak kaki dia tetap diam
Dgn sejuta filosofi yg menghantui

Menafsirkan sederet prinsip tanpa landasan siapakah diri ini?..
Bergulat emosi ambisi namun fatwa membatasi,

Masihkah diam itu emas
Walau kadangkala keterdiaman menuju batas keterpurukan rapuh diri ini,.

Rayuan

Oleh : Asep Rosidi

Ketika rayuan itu masih brada dalam buaian asmara,
Terasa rajutan nya terukir di hati,
Keindahan hanya nampak

Seiring betapa besar dia mengagungkan cinta ku di dalam hati nya,
Apakah ini hanya silau rayuan mu

Atau kah jerat mudah mendapatkn cinta,
Seolah sebuah permainan di akhiri dgn kemenangan,
Ataukah sebuah awal cinta butuh bumbu rayuan di dalamnya..

Langkah Pertama

MENEMPUH JAZIRAH CINTAMU

-Langkah Pertama

Dari titik sunyi aku mulai
Mungkin sendiri, mengawali lagi dari tepi
Jauh dari lazuardi

(Dan jemari gaib sedang menggambar paras bulan
Nyaris segaris, lebih tipis dari alis)

Dari sebuah kehilangan yang tidak kulawan, aku berjalan
Saat ia lepas dari genggaman, aku termangu sepenuh heran
Di mana sumbu perasaan harus bertahan?

(Lengkung itu kemudian dinyalakan oleh pijar alam
Menandai langit malam, batal dirundung kelam)

Dari riak ombak aku bertolak
Seperti kapal karam namun tak kulihat gugusan topan
Mungkin ada kekuatan tak tampak, mengisi celah kerinduan

(Terlihat dari bumi: titimangsa yang meraih pagi
Hilal yang kasat mata tak hangus oleh matahari)

Dari renggang ruang aku menjelang
Sesuatu yang akan datang, seperti jalan pulang
Adakalanya aku berharap tempat itu demikian benderang

(Berlayar ia sendirian menuju sebuah barat
Tempat angin bermukim dan menghimpun isyarat)

Dari rentang jarak aku bergerak
Aku tak sungguh tahu arah kaki melangkah
Selain menuju noktah, di tengah atau setelah luas jazirah

(Samar wajah komari itu seperti menuntun kita
Menuju makna cinta yang belum digoreskan tinta)

1 Ramadan 1431, 11 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Langkah Kedua

-Langkah Kedua

Pada tangkai pertama rasa lapar itu, aku melihat senyummu
Cinta yang menderas, tanpa belas, tanpa batas
Aku membiarkan diri kandas

Sejenak aku mengira jarak ke rumahmu, dalam kurun pilu
Dihitung dengan ukuran detak jantung
Rindu tak terbendung

Pada sebuah ilusi tentang rasa haus, kupandang bening matamu
Mengucurkan air, serupa kasih yang mengalir, tiada akhir
Aku sungguh mencintai takdir

Ruas panjang perjalanan, perlahan mengusir bimbang
Andai kusebut namamu pada setiap ayun langkah
Sudikah menetap di telapak tanganku sebagai rajah?

2 Ramadan 1431, 12 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Langkah Ketiga

-Langkah Ketiga

Malam pun tulus membentuk kubah
Untuk meletakkan puncak saat aku tengadah
Antara dua ujung ufuk: terbentang jazirah
Tempat sewaktu-waktu cintamu rekah

Terulur seutas tali untuk bertumpu telapak kaki,
menempuh hatimu yang menjauh, inci demi inci
Tunggu aku, kekasih. Aku tak ingin memilih sedih

Di altar langit: gemintang serupa komposisi cermat
bebiji halma yang dimainkan sepasang Malaikat
Mereka tekun menghitung rahmat untuk disemat
Pada hati manusia yang memelihara kiblat

Akukah di antara yang tertunduk malu, karena selalu
batal wudu? Jangan tinggalkan aku, kekasih
Sudah bertahun waktu aku menanggung perih

Pada lengkung gelap yang terbagi tiga bejana
Sipit mataku selalu menangkap aksara
Samar warna perak, seperti jejak yang harus kupijak
Agar tiba dengan selamat sebelum ambang kiamat

Belum paham benar tentang jemari yang menuntunku
Sebab nyaris kulupa rupa ilmu di raut wajahmu
Izinkan aku pasrah padamu, kekasih, petunjuk yang kurindu

3 Ramadan 1431, 13 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Langkah Keempat

-Langkah Keempat

Di senja berminyak, saat langit merias wajah saga
Terbayang rimbun kenangan masa kanak-kanak
Semarak putaran jatuh-bangun kincir diorama

Mungkin sejak itu, manakala rambut masih tegak
Aku mengawali perjalanan mencari cintamu
Pada singkat usia bapak, pada beledu raut ibu

Lapar adalah keberanian tanpa mengasah pedang
Haus mirip lembar papyrus menghindari kisah perang
Berlagak ksatria, selalu kutamatkan perjalanan shiam

Di sore lebam oleh hibuk lalu-lalang orang pulang
Masih setia kucari cinta, alamat yang kujelang
: Pintu yang menuju arah dari mana aku datang

Jazirah ini, pada setentang pandang, luas tak terkira
Aku tahu engkau menunggu pada jarak cemasku
Aku ingin tahu kesabaranmu menanti langkah siputku

Tabah adalah cendera mata terindah
Untuk tak selalu rindu pada pelangi masa lalu
Ketika cinta seperti hadiah, begitu azan petang berlagu

4 Ramadan 1431, 14 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Langkah Kelima

-Langklah Kelima

Di tengah para sahabat, seperti di tengah para Malaikat
Waktu terpaut: antara harapan dan anugerahmu
Di tengah kesempatan singkat, cintamu sungguh memikat
Aku kerap ragu: antara kita, siapa menghampiri lebih dulu?

Suwung ragaku dicurah gairah narasi langit*
Aku terpejam sesaat, membayangkanmu sekejap
Panggung jiwaku runtuh oleh cahaya yang terbit
Engkau datang melalui sepasang mata yang menatap

Seolah telah kugapai tepi gurun yang kutempuh
Kusyukuri rinci peristiwa, seperti kueja bebulir merjan
Aku mencoba sembunyi dari seluruh sifat rapuh
Walaupun pengetahuanmu tentang aku tak terlawan

Di tengah para sahabat, seperti di tengah para Malaikat
Doaku membubung perlahan melalui tarikh air mata
Ketika senja membuka kolam, malam menggenangi dengan cinta
Aku gemetar sendiri membilang namamu di tiap rakaat

5 Ramadan 1431, 15 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Keterangan:
• narasi langit, kupetik dari ucapan Ben Sohib pada diskusi Sastra Relijius di Kedailalang
• tarikh air mata, puisiku Ramadan tahun lalu, dibacakan oleh Khrisna Pabhicara di Kedailalang

Salam puisi cinta….

Langkah Keenam

-Langkah Keenam

Benar katamu: kami merugi atas nama waktu yang berlalu
Bagai diseret sungai bandang melaju ke masa silam
Membentuk tugu usia, berselimut debu, windu demi windu
Kepadanya tak terkejar kenangan, tak mungkin dipetik ulang
Memandang ke belakang semata menemu sesal menggenang
Jazirah di depan menyusun ribuan jalan sebagai pilihan
Cintamu menunggu di setiap pintu, harus kami kenali satu per satu
Sepanjang jalan tergoda singgah menyesap anggur duniawi
Bermain petak umpet dengan suara sabar panggilanmu
Menakar ganjil-genap harapan, mempersiang kesempatan
Kami menciptakan labirin untuk menjemput kebingungan sendiri
Sisa nyala pelita belum tentu sanggup menerangi tujuan
Namun kami terus menabung kerugian dalam kerentaan
Kecuali mengambil jalan saling mengingatkan untuk kebaikan

Selain menempuh titian saling menasihati dalam kesabaran
Kami hanya mampu menimbun kerugian hingga penuh uban
Sepercik cahaya yang kami genggam sewaktu-waktu akan padam
Selalu saja tumbuh cecabang peta buta untuk saling mencari
Menghitung ganjil-genap peruntungan, melipat lembar kesadaran
Masih gemar bermain pat gulipat dengan panggilan sayangmu
Sepanjang perjalanan terpikat bujuk rayu memabukkan
Lupa pada cintamu yang menanti di setiap pintu, yang memasang alamat
Jazirah di depan membentang dengan sejuta penanda tak terbaca
Memandang ke belakang, tirai kelam menutup cakrawala
Kepadanya tak tergapai ingatan, mustahil kami panggil ulang
Telanjur menjadi monumen usia, keruh berkarat, mungkin sia-sia
Ya, bagai didorong angin tsunami terdampar ke masa silam
Benar katamu: kami merugi atas nama waktu yang berlalu

6 Ramadan 1431, 16 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Langkah Ketujuh

Langkah Ketujuh

Bukankah ini perjalanan rahasia, kekasihku?
Hanya aku dan kau yang tahu, hanya kau dan aku
Niatku lurus melintas jazirah, menuju cakrawala kaffah
Bagi jiwa yang nyaris semaput ini, serupa pelukan, cintamu rekah

Bukankah ini percakapan tentang kita berdua, sang abadi?
Di taman indah bernama Ramadan yang ditumbuhi berjuta kesturi
Kau menyamar sebagai fakir, aku memerankan penderma sederhana
Jangan biarkan aku tergoda pundi-pundi pahala, jadikan ini tetap rahasia

Siang malamku bertudung doa yang kunyalakan sebagai cahaya
Untuk mengamati wajahmu lebih saksama, aura rona cinta
Sebelum aku tunduk gemetar, di kakimu yang perkasa

Pagi dan senjaku serupa upacara memanggil nama indahmu
Diam-diam kaurentang titian sepanjang hela nafasku
Untuk mempertemukan kita: di hulu nadiku

7 Ramadan 1341, 17 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Langkah Kedelapan

-Langkah Kedelapan

Banyak jalan menujumu, memujamu
Melalui jazirah lapar sang jelata, cintamu
memenuhi cekung matanya: sisa lelampu

Sepasang terompah yang diseret menjauh
dari arang-keranjang luka dunia. Melepuh
Sunyi menjadi obat, sebelum padamu berlabuh

Kuingat ladang tebu, luas bunga gelagah
Masa kecil serupa layang-layang bungah
Memandang kakek menampung cintamu, pasrah

Kurasa aku telah berputar, menyasar arah
Mengapa begitu panjang dan lebar ini jazirah?
Andai kupejam mata, mungkinkah kulihat cahaya secercah?

Seperti sedap malam, haiku ini kutanam pada bejana
Aku rindu dan selalu rindu pada aroma dan suara
Pada cintamu yang mulia: di ujung sana

8 Ramadan 1431, 18 Agustus 2010
Kurnia Effendi

Salam puisi cinta….

Sitemap Contact